Just another WordPress.com site

Archive for December, 2010

Barong

Untuk melanjutkan tema tulisan sebelumnya yang masih ada hubungannya dengan pemahaman Tuhan Nirguna Brahman dan Saguna Brahman maka Barong menjadi pilihan saya. Kenapa Barong dan bukan yang lain? Karena pada perwujudan Sesuunan Barong ini saya melihat ada ajaran yang tersembunyi didalamnya.

Saya selalu menjadikan Nirguna Brahman menjadi dasar pijakan pemahaman saya tentang Saguna Brahman. Banyak orang tidak paham kalau didalam setiap mahluk ada energi kehidupan yang membuatnya hidup yang berasal dari sumber kehidupan yang sama yaitu Brahman.

Energi kehidupan pada tumbuhan disebut Stavira, Energi kehidupan pada binatang disebut Janggama dan Energi kehidupan pada manusia disebut Atman. Jadi semua ciptaan Tuhan adalah perwujudan Tuhan tapi perwujudan tersebut bukanlah Tuhan.

Karena kurangnya pemahaman maka sulit bagi manusia untuk bisa atau mau menghormati manusia lainnya apalagi menghormati binatang yang dianggap lebih rendah drajatnya. Untuk itu perlu dibuatkan sarana pembelajaran bagaimana menghormati ciptaan Tuhan. Perwujudan sesuunan barong yang merupakan sarana persembahyangan dibuat berbentuk manusia (barong landung), berbentuk binatang (barong ket,barong macan,barong bangkal) dan bentuk-bentuk mahluk lainnya.

Kalau diperhatikan pada awalnya dimasa lampau umat Hindu beragama dengan cara yang sangat simpel sekali seperti melakukan sembahyang didepan pohon besar maupun batu besar atau cukup dengan bebaturan.

Dengan berkembangnya kemampuan manusia khususnya umat Hindu Bali,cara-cara persembahyanganpun juga ikut berkembang. Dengan keterampilan seni yang tinggi orang Bali kemudian mengubah pohon besar dan batu besar menjadi benda-benda seni seperti pratima maupun patung yang dijadikan sarana persembahyangan

Pohon Besar dan Batu Besar

Ada apa dengan pohon besar dan batu besar? Sejak zaman dahulu kala umat Hindu di Bali sudah biasa menyembah pohon besar atau batu besar yang oleh umat non Hindu dianggap sebagai praktek animisme. Menurut pemahaman saya praktek-praktek ini bukanlah animisme melainkan murni ajaran Hindu.

Mereka tidak paham kalau di Hindu ada yang namanya sekala dan niskala. Mereka hanya cenderung kepada apa yang mereka lihat secara kasat mata atau sekala dan langsung menyimpulkan sesuatu itu sesuai dengan apa yang mereka lihat secara kasat mata. Mereka tidak mengerti dengan substansi yang ada dibalik yang kasat mata tersebut yang disebut niskala yang justru merupakan tujuan utama dari praktek pemujaan tersebut.Jadi sebenarnya yang kita sembah itu bukanlah pohon besar atau batu besar itu melainkan Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak berwujud dan ada dimana mana baik didalam ciptaanNya maupun diluar ciptaanNya sesuai ajaran Nirguna Brahman (wyapi wyapaka nirwikara).

Itulah sebabnya mengapa kita menutup mata waktu sembahyang, karena kita mau menyembah yang tidak kelihatan. Kalau kita sembahyang dengan mata terbuka maka perwujudan yang yang ada dihadapan kita itulah yang kita sembah, sedangkan perwujudan itu bukanlah Tuhan. Ajaran ini merupakan ajaran Hindu tentang bagaimana memahami Tuhan sebagai Nirguna Brahman (Tuhan yang tidak berwujud) dan Saguna Brahman (Tuhan yang berwujud).

Memang tidak mudah bagi seseorang untuk memahami tentang Nirguna Brahman dan Saguna Brahman, termasuk bagi umat Hindu sendiri. Bagi saya sendiri pemahaman ini membantu memudahkan saya mengurangi kebingungan saya dalam memahami Tuhan menurut Hindu.

Sebelumnya saya memang dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan karena kita sebagai umat Hindu Bali sejak kecil belajar agama Hindu bukan dengan belajar tatwa melainkan melalui praktek upacara agama (ritual), dan dengan praktek tersebut kita sudah merasa puas walaupun kita sebenarnya sering tidak tahu makna dari suatu upacara tersebut dan kalaupun ditanyakan kepada orang-orang tua, jawabannya hanyalah jawaban klise “nak mula keto atau mula napet keto” dan bagi saya ini adalah bukan sebuah jawaban melainkan sebuah pernyataan “ketidak tahuan” dan saya pun kalau bisa tidak ingin melanggengkan atau mengajegkan kebodohan saya kepada anak cucu saya.

Om Swastyastu

Tulisan ini sengaja saya awali dengan salam umat Hindu yang biasa disebut pangastungkara atau panganjali. Saya adalah seorang pensiunan pegawai PT Persero Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai. Saya memasuki masa pensiun mulai tahun 2007 dimana sebelumnya saya sudah mengambil masa persiapan pensiun satu tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 yang oleh banyak pihak diplesetkan sebagai mati pelan pelan yang menurut saya pribadi tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

Tulisan yang saya buat di blog ini atas dorongan dan bantuan anak-anak saya yang lebih paham masalah komputer. Mereka menyarankan saya membuat tulisan ini di blog agar bisa dibaca oleh banyak orang daripada ditulis dan dibaca sendiri saja dan saya pikir benar juga. Awalnya tulisan ini saya beri judul Renungan Sekala Niskala tapi mereka kemudian menggantinya dengan Renungan Dharma dengan alasan memudahkan orang untuk mengingatnya.

Sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini saya mohon maaf sebesar besarnya karena tidak ada maksud saya sedikitpun untuk menggurui siapapun karena saya bukanlah siapa-siapa. Setelah membaca tulisan ini saya mohon anda untuk tidak buru-buru setuju atau tidak setuju namun renungkanlah.

Tulisan ini juga bukan untuk diperdebatkan dan kalaupun ada yang ingin memperdebatkannya saya persilahkan anda berdebat dengan diri anda sendiri sepuasnya sampai anda mendapat jawaban yang sesuai dengan harapan anda.

Saya tidak punya latar belakang pendidikan agama sehingga saya bukanlah seorang yang ahli dibidang agama dan sekarang saya punya banyak waktu, saya mulai belajar agama Hindu sedikit-sedikit melalui membaca buku diusia yang cukup tua. Tidak apalah daripada bengong menunggu waktu.

Kembali ke topik diatas,kata Om Swastyastu pertama kali saya dengar ketika saya sekolah di Sekolah Rakyat yang sekarang menjadi Sekolah Dasar. Seingat saya ketika itu saya baru kelas III dan itu terjadi tahun 1960 dimana saya pertama kali diajarkan salam Om Swastyastu dan  dijawab dengan Swastyastu Om. Kok kedengarannya seperti meniru niru salam agama lain. Kemudian jawabannya diganti menjadi Om Shanti,Shanti,Shanti Om. Kedengarannya tetap kurang pas dan kemudian diganti lagi menjadi seperti sekarang ini yaitu Om Swastyastu.

Saya tidak tahu siapa yang menciptakan salam atau pangastungkara Om Swastyastu ini. Bagi saya pribadi Om Swastyastu ini mempunyai makna yang luar biasa. Selama ini yang saya temukan di buku-buku hanyalah arti harfiahnya saja yaitu Ya Tuhan Semoga Selamat dan kedengarannya begitu simpel.

Tulisan ini berawal dari pencarian jawaban dari kegelisahan atau ketidaktahuan saya atas apa yang saya lihat terjadi di masyarakat. Saya merenung dan sering berdebat dengan diri saya sendiri dan kadang-kadang secara tiba-tiba saya merasa mendapat jawaban dari pertanyaan saya sendiri. Kenapa saya mengatakan Om Swastyastu itu mempunyai makna yang sangat luar biasa. Lalu dimana ke luar biasaan dari panganjali Om Swastyastu ini?

Kalau kata Swastyastu diucapkan tersendiri tidak ada sesuatu yang luar biasa. Ketika mengucapkan Om Swastyastu dihadapan seseorang ataupun sekelompok orang kata ini menjadi mempunyai makna sekala dan niskala. Makna niskalanya ada pada kata Om yang bukan kita tujukan kepada orang atau sekelompok orang yang ada dihadapan kita namun kepada Tuhan yang bersemayam di Anahata Cakra orang tersebut. Karena itulah kita mencakupkan kedua tangan kita di dada sebagai wujud bakti kita kepadaNya dimana orang pertama yang mengucapkan Om Swastyastu posisinya sebagai penyembah, dan ketika orang kedua menjawab dengan Om Swastyastu posisinya juga menjadi sebagai penyembah. Makna sekalanya kita menghormati pribadi dari orang-orang yang kita hormati dan konsep ini sejalan dengan ajaran Hindu siapapun yang kita hormati, perhormatan kita itu akan sampai juga kepadaNya sesuai dengan Maha Wakya Sarwa Jiwa Namaskaram Kesawam Pratiga Chati dikarenakan Iswara Sarwa Bhutanam  (Tuhan ada didalam setiap mahluk).

Saya heran karena masih banyak saya lihat umat Hindu yang malu-malu mengucapkan salam Om Swastyastu, dan ada kesan main-main seperti yang sering saya lihat didalam suatu pertunjukan, panganjali Om Swastyastu dijadikan bahan guyonan. Pantaskah apa yang semestinya menjadi kebanggaan kita malah kita nistakan sendiri?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.