Just another WordPress.com site

Tri Sandya

Tradisi beragama berkembang seiring dengan berjalannya waktu sehingga banyak anak muda sekarang ini yang tidak tahu kalau Tri Sandya dan Panca Sembah itu merupakan produk tradisi baru. Mereka mengira Tri Sandya dan Panca Sembah ini memang sudah ada dari zaman dahulu.

Dulu waktu saya masih kecil cara kita bersembahyang berbeda dengan cara-cara yang kita lakukan sekarang. Kalau di pura ada 11 pelinggih maka kita sembahyang di depan semua pelinggih, berpindah dari satu pelinggih yang satu ke pelinggih yang lain. Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak waktu yang dibutuhkan bila ada ribuan pemedek seperti sekarang. Dahulu sebelum ada transportasi canggih seperti sekarang, yang bersembahyang ke pura hanyalah orang-orang yang bermukim disekitar pura saja. Sekarang pemedek dari seluruh Bali datang ke pura bersembahyang 24 jam dan bisa berlangsung berhari-hari dan puranyapun terang benderang karena sudah ada listrik. Tehnologi yang merupakan hasil dari jnana marga memang benar-benar memudahkan hidup. Demikian juga tradisi meajar-ajar keliling Bali atau bahkan mungkin suatu saat nanti sampai keluar Bali atau bahkan ke luar negeri baru muncul setelah adanya transportasi mobil dengan segala kenyamanannya. Keren juga kan hitung-hitung sambil tamasya atau jangan-jangan tamasyanya yang lebih penting.

Rupanya para tokoh umat pada waktu itu mulai berfikir bagaimana membuat cara bersembahyang yang lebih simpel dan efektif. Saya pertama kali mengenal Puja Tri Sandya pada waktu saya masih sekolah di Sekolah Rakyat sekitar tahun enam puluhan. Tri Sandya dan Panca sembah merupakan produk baru yang mantranya merupakan gabungan mantra-mantra yang diambil dari beberapa sumber yang berbeda. Panca Sembahnya muncul belakangan yang kemudian menjadi satu paket persembahyangan dengan Puja Tri Sandya.

Pada mulanya saya tidak pernah berfikir tentang Tri Sandya ini dan merasa nyaman-nyaman saja sampai suatu ketika muncul pertanyaan dalam diri saya yang tidak bisa saya jawab. Setiap ada persembahyangan bersama selalu diawali dengan Puja Tri Sandya yang dilanjutkan dengan Panca Sembah dengan arahan dari pengenter persembahyangan agar memusatkan pikiran pada Sang Hyang Siwa Raditya.

Pertanyaan ini selalu muncul dalam diri saya setiap mengikuti persembahyangan bersama yang membuat saya menjadi bingung. Kalau pertanyaan itu tidak muncul saya akan nyaman-nyaman saja walaupun sebenarnya tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Apakah Puja Tri Sandya ini pemujaan kepada Tuhan? Kalau ya kenapa cakupan tangan kita dibawah sedangkan pada waktu Panca Sembah cakupan tangan kita diatas. Bukankah Tuhan diasumsikan di atas. Terus bagaimana caranya memusatkan pikiran kepada Sang Hyang Siwa Raditya. Ternyata setelah saya tanya-tanya kepada teman-teman ternyata mereka juga tidak tahu. Apakah mungkin ini keliru?

Akhirnya saya merasa menemukan jawaban kalau apa yang tadinya saya pikir keliru ternyata benar sehingga saya bisa lebih yakin dengan apa yang saya lakukan. Terus kenapa benar?

Pemujaan Tuhan Nirguna Brahman sebagai Tuhan tidak berwujud adalah sangat sulit untuk dilakukan. Sedangkan pemujaan Tuhan Saguna Brahman sebagai Tuhan yang berwujud adalah jalan menuju Tuhan Nirguna Brahman. Jadi untuk menuju Tuhan yang tidak berwujud didalam pemujaan Tri Sandya memerlukan perwujudan Tuhan. Tuhan yang paling mudah untuk dipahami adalah Tuhan yang paling dekat dengan diri kita adalah Tuhan yang bersemayam dalam diri kita sebagai Bhuwana Alit yaitu Sang Hyang Atma (Atman Brahman Aikyam) yang membuat kita hidup yang bermakna pemujaan Tuhan kedalam. Itulah sebabnya cakupan tangan kita didada (anahata cakra). Selanjutnya pada waktu Panca Sembah kita memuja Tuhan diluar diri yaitu Tuhan di Bhuwana Agung sebagai Tuhan Nirguna Brahman. Terus bagaimana memusatkan pikiran kepada Sang Hyang Siwa Raditya. Kembali kita harus menggunakan perwujudan Tuhan di dalam Bhuwana Agung yaitu “matahari” yang merupakan salah satu dari 3 perwujudan Tuhan yang mutlak ada yang merupakan sumber kehidupan ini. Tanpa 3 perwujudan ini tidak akan ada kehidupan didunia ini.

Adapun ketiga perwujudan ini adalah perwujudan Tri Murti: 1. Matahari yang merupakan sumber api terbesar didunia yang merupakan simbol dari Brahma, 2. Air dengan sumbernya laut merupakan simbol dari Wisnu dan 3. Udara yang merupakan simbol dari Siwa. Demikian menurut pemahaman saya.

Pada waktu jalan by pass Ngurah Rai baru dibuka sekian tahun yang lalu, jalan itu terasa begitu lebar dan wah. Pengendara motor atau mobil bisa dengan leluasa memacu kendaraannya diatas 100 km per jam. Jarak dari Bandara Ngurah Rai ke Sanur bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Tidak ada yang namanya macet. Sekarang jarak yang sama bisa-bisa harus ditempuh 1 jam karena adanya hadangan macet yang dimulai dari sebelah timur patung Dewa Ruci di persimpangan yang saking semrawutnya disebut “simpang siur” sampai sebelah selatan patung. Hal ini juga disebabkan oleh betapa hebatnya perkembangan jumlah kendaraan di Denpasar. Di negara-negara maju orang malas berkendaraan pribadi karena transportasi umumnya begitu terjamin ketepatan waktunya, nyaman dan aman. Yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya termasuk Denpasar. Sistem transportasi umum di negara kita tercinta ini justru sangat amburadul, tidak tepat waktu, tidak nyaman dan tidak aman sehingga orang lebih memilih untuk membeli kendaraan pribadi walaupun dengan mencicil.

Untuk mengatasi masalah tersebut mulai muncul wacana-wacana, solusi apa yang mesti diambil. Ada yang mengusulkan membangun jalan layang atau flyover, ada yang mengusulkan underpass. Ide-ide inipun mulai memunculkan masalah baru, ada yang setuju dan ada yang tidak. Perbedaan pendapat memang sesuatu yang wajar-wajar saja, tetapi hendaknya sesuatu yang sudah ruwet ini jangan dibuat tambah ruwet, karena yang rugi tetap masyarakat.

Yang kontra dengan kemajuan menyatakan bahwa jalan layang tidak cocok dengan budaya dan kepercayaan masyarakat Bali yang namanya “leteh”. Orang luar Bali sudah pasti tidak ngerti leteh itu apa sih? Leteh bermakna kotor, tapi yang kotor apanya?. Susah juga menjawabnya, karena leteh bukan sesuatu yang nyata namun sesuatu yang abstrak dan juga susah ngukurnya karena keabstrakannya. Saya kira leteh itu sesuatu yang berasal dari pikiran, tergantung bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu. Kalau kita pikir sesuatu itu ngeletehin, muncullah perasaan leteh itu dalam diri kita. Kalau kita tidak berpikir tentang itu perasaan kita akan nyaman-nyaman saja.

Cobalah anda jalan-jalan ke pasar tradisional Bali. Bangunan pasar tradisional dikota besar seperti Denpasar sudah berubah. Bangunan pasar tradisional dibangun dalam bentuk bertingkat, Cobalah masuk kedalamnya dan keliling-keliling. Yang perlu anda lihat bukanlah barang yang dijual maupun yang jualan. Cobalah anda melihat ke pojok atas timur laut setiap blok. Anda akan melihat banyak pelangkiran dengan canang sari dan dupa yang mengepulkan asap, mulai dari lantai dasar sampai lantai atas. Apakah konsep leteh tidak berlaku dipasar? Mungkin para pedagang di pasar tidak berpikir tentang keletehan sehingga merasa nyaman-nyaman saja, atau barangkali para pedagang sudah memahami tattwa. Biasanya kalau dilihat dari konsep ekonomi sewa dilantai paling bawah malah paling mahal. Tapi kalau dilihat dari konsep leteh justru sebaliknya. Lantai paling bawah adalah paling leteh karena ada begitu banyak lantai diatasnya dengan banyak orang atau barang yang membuat leteh yang dibawahnya.

Bali disebut dengan banyak julukan, salah satunya “The island of thousand temples” karena di Bali ada ribuan pura. Bagi orang Bali Hindu, pura adalah tempat suci.dan sakral. Tidak sembarang orang boleh masuk ke pura, terutama bagi wanita yang datang bulan dilarang memasuki areal pura karena dianggap bisa ngeletehin pura. Ada ribuan wanita wisatawan yang masuk ke pura setiap hari dan tidak mustahil diantara mereka ada yang sedang kedatangan tamu bulanan. Siapa yang tahu mereka punya tamu. Setiap hari ada ratusan pesawat terbang yang melintas diatas pulau Bali dengan ribuan orang didalamnya, bahkan kadang-kadang juga ada mayat didalamnya. Letehkah Bali? Tidak! Bali tidak leteh. Buktinya tidak pernah ada orang ribut-ribut tentang pesawat terbang yang melintas diatas Bali. Atau karena orang Bali tidak berdaya melarang pesawat terbang melintas diatas Bali, atau karena adanya kemajuan berpikir orang Bali, atau barangkali mindset orang Bali sudah berubah sehingga mereka berpikir Ida Betara maupun para Dewa tidak kena keletehan. Atau lebih luas lagi mereka mulai berpikir sesuai ajaran Hindu bahwa Tuhan ada dimana-mana memenuhi alam semesta ini (sarvam kalvidam Brahman) dan beliau maha suci sehingga seluruh alam semesta ini suci adanya. Apakah ini merupakan salah satu keunikan cara berpikir orang Bali Hindu?

Saya kira kuncinya ada pada mindset atau pola pikir kita. Karena ini masalah sekala maka penyelesainnya juga secara sekala. Saya tidak melihat ada cara niskala yang bisa dipakai disini. Kalau tidak ada perubahan sudah pasti kemacetan akan bertambah panjang setiap hari dan ini bisa menimbulkan masalah baru seperti emosi menjadi meningkat hingga muncul perasaan marah dan umpatan-umpatan. Cuma bagaimana masing-masing orang mengungkapkan atau mengekspresikan perasaan tersebut, apakah diungkapkan keluar atau dipendam.

Bagaimana kalau dalam situasi kemacetan seperti ini kebetulan ada rombongan orang ngiring Betara. Emosi-emosi seperti diatas juga akan muncul pada para pengiring Betara. Apa ini tidak ngeletehin? Atau mungkin suatu saat nanti ada pemikiran Ida Betara diterbangkan dengan helikopter dan pengiringnya lewat jalan darat. Siapa tahu mungkin suatu saat ada Betara yang mau melancaran ke luar Bali, contohnya ke Nusa Penida atau ke Jawa bahkan ke India sekalipun sehingga Ida Betara harus di naikkan ke pesawat udara. Ah ada-ada saja. Kalau Ida Betara naik perahu atau boat bahkan kapal laut saya kira sudah biasa. Budaya akan mengalami perubahan mengikuti zaman. Zaman dahulu mana ada Ida Betara melancaran naik mobil, tapi zaman sekarang Ida Betara sudah biasa naik mobil. Ini kan tergantung pikiran pengiringnya. Ida Betara sih oke-oke saja, mau simpel oke, mau ruwet juga oke. Apa Betara yang mengikuti kemauan pengiring atau pengiring yang mengikuti kemauan Betara? Terserah Anda saja!

Tradisi upacara pitra yadnya di Bali biasanya membutuhkan waktu yang banyak, dana yang banyak, orang yang banyak dan keribetan yang banyak. Kemegahan dan kemeriahan seolah-olah menjadi tujuan dari upacara. Kita memang berhasil memberikan tontonan yang indah dan kita bangga dengan pujian yang kita terima, tapi kita belum mampu memberikan tuntunan. Bagi orang Bali Hindu kejadian ini merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Penduduk asli Bali terus bertambah setiap tahun ditambah lagi dengan penduduk pendatang juga terus dan terus bertambah setiap tahun, kesulitan mencari kerja terus meningkat, tanah orang Bali terus menyusut karena sudah dibeli oleh pendatang. Dengan kondisi seperti itu apa mungkin kehidupan kita orang Bali akan bertambah sejahtera dimasa mendatang? Saya memang tidak optimis mengenai masalah ini dan mungkin orang Bali yang lain juga ada yang pesimis seperti saya, dan juga ada banyak orang Bali yang tidak perduli dengan mengatakan bahwa masa yang akan datang adalah urusan generasi yang akan datang. Pertanyaannya sampai kapan kita akan mampu mempertahankan kemegahan seperti itu sedangkan waktu kita semakin sedikit karena harus bersaing meningkatkan kinerja dan dana kita juga semakin minim.

Sekarang sudah ada beberapa lembaga penyelenggara upacara keagamaan yang berani meyederhanakan upacara, sehingga upacara yang penuh banyak itu bisa diminimalkan terutama dananya. Pertanyaannya apakah dengan minimalisasi ini makna upacara juga menjadi minim? Semuanya kembali ke pribadi masing-masing bagaimana kita memaknai upacara. Pilihan ada pada diri kita masing-masing karena urusan beragama adalah urusan pribadi. Mau beragama dengan cara ruwet silahkan, mau yang simpel juga silahkan. Kedepannya mestinya kita lebih bisa beragama secara cerdas dan seimbang sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana yaitu keseimbangan antara beragama secara vertikal ke atas (Parahyangan) , ke bawah terhadap lingkungan hidup (Palemahan) dan ke samping terhadap sesama manusia (Pawongan). Sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik. Jangan keatasnya besar sampai habis-habisan, apalagi sampai berhutang sehingga tidak ada yang tersisa untuk yang kesamping. Kalau itu yang terjadi bagaimana mungkin kita bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik buat anak-anak kita. Sebaliknya kalau kita mampu beragama sesuai dengan Tri Hita Karana maka tercapailah kebahagiaan sesuai dengan makna dari Tri Hita Karana.

Kebetulan pada saat tulisan ini saya buat pada salah satu siaran tv nasional sedang ada acara bedah rumah. Rupanya acaranya juga disesuaikan dengan situasinya, karena pada saat itu menjelang hari Raya Natal. Rumah yang dibedah adalah rumah salah satu keluarga yang beragama Kristen. Acara tersebut mampu membawa kebahagiaan kepada keluarga mereka. Sadarkah kita bahwa acara tersebut adalah bagian dari ajaran Tri Hita Karana?

Tuhan dan Manusia

Sebagai penganut Hindu kita percaya Bahwa Bhagawad Gita merupakan salah satu dasar dari keyakinan agama kita. Oleh karena disini saya petikkan salah satu dari bab Bhagawad Gita yaitu Bab VII – 6 yang menyebutkan “Etad-yonini bhutani sarvanity upadharaya, aham krtsnasya jagatah prabhavah pralayas tatha” yang artinya : “Ketahuilah bahwa semua mahluk mempunyai asal kelahiran disini. Aku adalah asal mula dari seluruh alam semesta ini, demikian pula penyerapannya kembali”. Semuanya berasal dari Tuhan dan milik Tuhan termasuk diri kita ini. Kita tidak punya apa-apa karena semuanya adalah milik Tuhan.

Kita sesungguhnya hanyalah konsumen atau penikmat. Segala ciptaanNya ada dibawah kekuasaanNya. Jadi sesungguhnya manusia tidak punya hak cipta maupun hak milik. Manusia hanya punya hak pakai.

Dimasa lampau dimana kemampuan manusia masih belum berkembang dan masih sangat sederhana, manusia hanya berusaha untuk bisa bertahan hidup. Manusia hidup dalam kelompok secara nomaden berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika itu belum ada rasa memiliki. Ketika mereka mulai menemukan suatu daerah yang di anggap subur dan nyaman, mereka mulai menetap dan menganggap wilayah yang dibawah kekuasaannya tersebut sebagai miliknya. Kalau ada kelompok lain yang datang dianggap sebagai suatu ancaman sehingga terjadilah peperangan. Di zaman sekarang segala sesuatu dianggap menjadi miliknya karena merasa sudah membeli. Apakah pantas kita mengatakan kalau banten yang kita haturkan kepada para dewa maupun Tuhan kita anggap sebagai suatu persembahan, apalagi diembel-embeli dengan kata penuh ketulusan hanya karena kita menganggap sudah menjadi milik kita, tapi kemudian kita bawa kembali pulang untuk kita nikmati. Ini hanyalah aturan yang dibuat manusia agar tidak terjadi kekacauan. Kita harus menyadari bahwa kita tidak pernah membayar atau melakukan jual beli dengan Tuhan sebagai pemilik sah alam ini.

Manusia jangan sombong mengatakan mampu menciptakan ini dan itu. Hanya Tuhan yang punya kemampuan mencipta. Manusia tidak lebih dari sekedar tukang masak, yang memasak makanan dari bahan baku yang sudah ada hingga menjadi masakan ini dan itu. Manusia hanyalah pembuat dari sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lain, from something to other thing, sedangkan Tuhan mencipta dari tiada menjadi ada atau from nothing to something. Manusia diberikan kemampuan untuk menolong dirinya sendiri maupun mahluk yang lain sebagai yadnya didalam menjalani kehidupan ini. Dengan kemampuan ini manusia semestinya mengolah alam ini dengan baik dan janganlah merusaknya karena manusia tidak punya hak mempralina alam ini.

Barong

Untuk melanjutkan tema tulisan sebelumnya yang masih ada hubungannya dengan pemahaman Tuhan Nirguna Brahman dan Saguna Brahman maka Barong menjadi pilihan saya. Kenapa Barong dan bukan yang lain? Karena pada perwujudan Sesuunan Barong ini saya melihat ada ajaran yang tersembunyi didalamnya.

Saya selalu menjadikan Nirguna Brahman menjadi dasar pijakan pemahaman saya tentang Saguna Brahman. Banyak orang tidak paham kalau didalam setiap mahluk ada energi kehidupan yang membuatnya hidup yang berasal dari sumber kehidupan yang sama yaitu Brahman.

Energi kehidupan pada tumbuhan disebut Stavira, Energi kehidupan pada binatang disebut Janggama dan Energi kehidupan pada manusia disebut Atman. Jadi semua ciptaan Tuhan adalah perwujudan Tuhan tapi perwujudan tersebut bukanlah Tuhan.

Karena kurangnya pemahaman maka sulit bagi manusia untuk bisa atau mau menghormati manusia lainnya apalagi menghormati binatang yang dianggap lebih rendah drajatnya. Untuk itu perlu dibuatkan sarana pembelajaran bagaimana menghormati ciptaan Tuhan. Perwujudan sesuunan barong yang merupakan sarana persembahyangan dibuat berbentuk manusia (barong landung), berbentuk binatang (barong ket,barong macan,barong bangkal) dan bentuk-bentuk mahluk lainnya.

Kalau diperhatikan pada awalnya dimasa lampau umat Hindu beragama dengan cara yang sangat simpel sekali seperti melakukan sembahyang didepan pohon besar maupun batu besar atau cukup dengan bebaturan.

Dengan berkembangnya kemampuan manusia khususnya umat Hindu Bali,cara-cara persembahyanganpun juga ikut berkembang. Dengan keterampilan seni yang tinggi orang Bali kemudian mengubah pohon besar dan batu besar menjadi benda-benda seni seperti pratima maupun patung yang dijadikan sarana persembahyangan

Ada apa dengan pohon besar dan batu besar? Sejak zaman dahulu kala umat Hindu di Bali sudah biasa menyembah pohon besar atau batu besar yang oleh umat non Hindu dianggap sebagai praktek animisme. Menurut pemahaman saya praktek-praktek ini bukanlah animisme melainkan murni ajaran Hindu.

Mereka tidak paham kalau di Hindu ada yang namanya sekala dan niskala. Mereka hanya cenderung kepada apa yang mereka lihat secara kasat mata atau sekala dan langsung menyimpulkan sesuatu itu sesuai dengan apa yang mereka lihat secara kasat mata. Mereka tidak mengerti dengan substansi yang ada dibalik yang kasat mata tersebut yang disebut niskala yang justru merupakan tujuan utama dari praktek pemujaan tersebut.Jadi sebenarnya yang kita sembah itu bukanlah pohon besar atau batu besar itu melainkan Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak berwujud dan ada dimana mana baik didalam ciptaanNya maupun diluar ciptaanNya sesuai ajaran Nirguna Brahman (wyapi wyapaka nirwikara).

Itulah sebabnya mengapa kita menutup mata waktu sembahyang, karena kita mau menyembah yang tidak kelihatan. Kalau kita sembahyang dengan mata terbuka maka perwujudan yang yang ada dihadapan kita itulah yang kita sembah, sedangkan perwujudan itu bukanlah Tuhan. Ajaran ini merupakan ajaran Hindu tentang bagaimana memahami Tuhan sebagai Nirguna Brahman (Tuhan yang tidak berwujud) dan Saguna Brahman (Tuhan yang berwujud).

Memang tidak mudah bagi seseorang untuk memahami tentang Nirguna Brahman dan Saguna Brahman, termasuk bagi umat Hindu sendiri. Bagi saya sendiri pemahaman ini membantu memudahkan saya mengurangi kebingungan saya dalam memahami Tuhan menurut Hindu.

Sebelumnya saya memang dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan karena kita sebagai umat Hindu Bali sejak kecil belajar agama Hindu bukan dengan belajar tatwa melainkan melalui praktek upacara agama (ritual), dan dengan praktek tersebut kita sudah merasa puas walaupun kita sebenarnya sering tidak tahu makna dari suatu upacara tersebut dan kalaupun ditanyakan kepada orang-orang tua, jawabannya hanyalah jawaban klise “nak mula keto atau mula napet keto” dan bagi saya ini adalah bukan sebuah jawaban melainkan sebuah pernyataan “ketidak tahuan” dan saya pun kalau bisa tidak ingin melanggengkan atau mengajegkan kebodohan saya kepada anak cucu saya.

Om Swastyastu

Tulisan ini sengaja saya awali dengan salam umat Hindu yang biasa disebut pangastungkara atau panganjali. Saya adalah seorang pensiunan pegawai PT Persero Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai. Saya memasuki masa pensiun mulai tahun 2007 dimana sebelumnya saya sudah mengambil masa persiapan pensiun satu tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 yang oleh banyak pihak diplesetkan sebagai mati pelan pelan yang menurut saya pribadi tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

Tulisan yang saya buat di blog ini atas dorongan dan bantuan anak-anak saya yang lebih paham masalah komputer. Mereka menyarankan saya membuat tulisan ini di blog agar bisa dibaca oleh banyak orang daripada ditulis dan dibaca sendiri saja dan saya pikir benar juga. Awalnya tulisan ini saya beri judul Renungan Sekala Niskala tapi mereka kemudian menggantinya dengan Renungan Dharma dengan alasan memudahkan orang untuk mengingatnya.

Sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini saya mohon maaf sebesar besarnya karena tidak ada maksud saya sedikitpun untuk menggurui siapapun karena saya bukanlah siapa-siapa. Setelah membaca tulisan ini saya mohon anda untuk tidak buru-buru setuju atau tidak setuju namun renungkanlah.

Tulisan ini juga bukan untuk diperdebatkan dan kalaupun ada yang ingin memperdebatkannya saya persilahkan anda berdebat dengan diri anda sendiri sepuasnya sampai anda mendapat jawaban yang sesuai dengan harapan anda.

Saya tidak punya latar belakang pendidikan agama sehingga saya bukanlah seorang yang ahli dibidang agama dan sekarang saya punya banyak waktu, saya mulai belajar agama Hindu sedikit-sedikit melalui membaca buku diusia yang cukup tua. Tidak apalah daripada bengong menunggu waktu.

Kembali ke topik diatas,kata Om Swastyastu pertama kali saya dengar ketika saya sekolah di Sekolah Rakyat yang sekarang menjadi Sekolah Dasar. Seingat saya ketika itu saya baru kelas III dan itu terjadi tahun 1960 dimana saya pertama kali diajarkan salam Om Swastyastu dan  dijawab dengan Swastyastu Om. Kok kedengarannya seperti meniru niru salam agama lain. Kemudian jawabannya diganti menjadi Om Shanti,Shanti,Shanti Om. Kedengarannya tetap kurang pas dan kemudian diganti lagi menjadi seperti sekarang ini yaitu Om Swastyastu.

Saya tidak tahu siapa yang menciptakan salam atau pangastungkara Om Swastyastu ini. Bagi saya pribadi Om Swastyastu ini mempunyai makna yang luar biasa. Selama ini yang saya temukan di buku-buku hanyalah arti harfiahnya saja yaitu Ya Tuhan Semoga Selamat dan kedengarannya begitu simpel.

Tulisan ini berawal dari pencarian jawaban dari kegelisahan atau ketidaktahuan saya atas apa yang saya lihat terjadi di masyarakat. Saya merenung dan sering berdebat dengan diri saya sendiri dan kadang-kadang secara tiba-tiba saya merasa mendapat jawaban dari pertanyaan saya sendiri. Kenapa saya mengatakan Om Swastyastu itu mempunyai makna yang sangat luar biasa. Lalu dimana ke luar biasaan dari panganjali Om Swastyastu ini?

Kalau kata Swastyastu diucapkan tersendiri tidak ada sesuatu yang luar biasa. Ketika mengucapkan Om Swastyastu dihadapan seseorang ataupun sekelompok orang kata ini menjadi mempunyai makna sekala dan niskala. Makna niskalanya ada pada kata Om yang bukan kita tujukan kepada orang atau sekelompok orang yang ada dihadapan kita namun kepada Tuhan yang bersemayam di Anahata Cakra orang tersebut. Karena itulah kita mencakupkan kedua tangan kita di dada sebagai wujud bakti kita kepadaNya dimana orang pertama yang mengucapkan Om Swastyastu posisinya sebagai penyembah, dan ketika orang kedua menjawab dengan Om Swastyastu posisinya juga menjadi sebagai penyembah. Makna sekalanya kita menghormati pribadi dari orang-orang yang kita hormati dan konsep ini sejalan dengan ajaran Hindu siapapun yang kita hormati, perhormatan kita itu akan sampai juga kepadaNya sesuai dengan Maha Wakya Sarwa Jiwa Namaskaram Kesawam Pratiga Chati dikarenakan Iswara Sarwa Bhutanam  (Tuhan ada didalam setiap mahluk).

Saya heran karena masih banyak saya lihat umat Hindu yang malu-malu mengucapkan salam Om Swastyastu, dan ada kesan main-main seperti yang sering saya lihat didalam suatu pertunjukan, panganjali Om Swastyastu dijadikan bahan guyonan. Pantaskah apa yang semestinya menjadi kebanggaan kita malah kita nistakan sendiri?