Just another WordPress.com site

Om Swastyastu

Tulisan ini sengaja saya awali dengan salam umat Hindu yang biasa disebut pangastungkara atau panganjali. Saya adalah seorang pensiunan pegawai PT Persero Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai. Saya memasuki masa pensiun mulai tahun 2007 dimana sebelumnya saya sudah mengambil masa persiapan pensiun satu tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 yang oleh banyak pihak diplesetkan sebagai mati pelan pelan yang menurut saya pribadi tergantung dari bagaimana kita menyikapinya.

Tulisan yang saya buat di blog ini atas dorongan dan bantuan anak-anak saya yang lebih paham masalah komputer. Mereka menyarankan saya membuat tulisan ini di blog agar bisa dibaca oleh banyak orang daripada ditulis dan dibaca sendiri saja dan saya pikir benar juga. Awalnya tulisan ini saya beri judul Renungan Sekala Niskala tapi mereka kemudian menggantinya dengan Renungan Dharma dengan alasan memudahkan orang untuk mengingatnya.

Sebelum anda melanjutkan membaca tulisan ini saya mohon maaf sebesar besarnya karena tidak ada maksud saya sedikitpun untuk menggurui siapapun karena saya bukanlah siapa-siapa. Setelah membaca tulisan ini saya mohon anda untuk tidak buru-buru setuju atau tidak setuju namun renungkanlah.

Tulisan ini juga bukan untuk diperdebatkan dan kalaupun ada yang ingin memperdebatkannya saya persilahkan anda berdebat dengan diri anda sendiri sepuasnya sampai anda mendapat jawaban yang sesuai dengan harapan anda.

Saya tidak punya latar belakang pendidikan agama sehingga saya bukanlah seorang yang ahli dibidang agama dan sekarang saya punya banyak waktu, saya mulai belajar agama Hindu sedikit-sedikit melalui membaca buku diusia yang cukup tua. Tidak apalah daripada bengong menunggu waktu.

Kembali ke topik diatas,kata Om Swastyastu pertama kali saya dengar ketika saya sekolah di Sekolah Rakyat yang sekarang menjadi Sekolah Dasar. Seingat saya ketika itu saya baru kelas III dan itu terjadi tahun 1960 dimana saya pertama kali diajarkan salam Om Swastyastu dan  dijawab dengan Swastyastu Om. Kok kedengarannya seperti meniru niru salam agama lain. Kemudian jawabannya diganti menjadi Om Shanti,Shanti,Shanti Om. Kedengarannya tetap kurang pas dan kemudian diganti lagi menjadi seperti sekarang ini yaitu Om Swastyastu.

Saya tidak tahu siapa yang menciptakan salam atau pangastungkara Om Swastyastu ini. Bagi saya pribadi Om Swastyastu ini mempunyai makna yang luar biasa. Selama ini yang saya temukan di buku-buku hanyalah arti harfiahnya saja yaitu Ya Tuhan Semoga Selamat dan kedengarannya begitu simpel.

Tulisan ini berawal dari pencarian jawaban dari kegelisahan atau ketidaktahuan saya atas apa yang saya lihat terjadi di masyarakat. Saya merenung dan sering berdebat dengan diri saya sendiri dan kadang-kadang secara tiba-tiba saya merasa mendapat jawaban dari pertanyaan saya sendiri. Kenapa saya mengatakan Om Swastyastu itu mempunyai makna yang sangat luar biasa. Lalu dimana ke luar biasaan dari panganjali Om Swastyastu ini?

Kalau kata Swastyastu diucapkan tersendiri tidak ada sesuatu yang luar biasa. Ketika mengucapkan Om Swastyastu dihadapan seseorang ataupun sekelompok orang kata ini menjadi mempunyai makna sekala dan niskala. Makna niskalanya ada pada kata Om yang bukan kita tujukan kepada orang atau sekelompok orang yang ada dihadapan kita namun kepada Tuhan yang bersemayam di Anahata Cakra orang tersebut. Karena itulah kita mencakupkan kedua tangan kita di dada sebagai wujud bakti kita kepadaNya dimana orang pertama yang mengucapkan Om Swastyastu posisinya sebagai penyembah, dan ketika orang kedua menjawab dengan Om Swastyastu posisinya juga menjadi sebagai penyembah. Makna sekalanya kita menghormati pribadi dari orang-orang yang kita hormati dan konsep ini sejalan dengan ajaran Hindu siapapun yang kita hormati, perhormatan kita itu akan sampai juga kepadaNya sesuai dengan Maha Wakya Sarwa Jiwa Namaskaram Kesawam Pratiga Chati dikarenakan Iswara Sarwa Bhutanam  (Tuhan ada didalam setiap mahluk).

Saya heran karena masih banyak saya lihat umat Hindu yang malu-malu mengucapkan salam Om Swastyastu, dan ada kesan main-main seperti yang sering saya lihat didalam suatu pertunjukan, panganjali Om Swastyastu dijadikan bahan guyonan. Pantaskah apa yang semestinya menjadi kebanggaan kita malah kita nistakan sendiri?

Comments on: "Om Swastyastu" (2)

  1. Lanjutkan saya ingin tahu kisah liku agama kita and budaya Bali kita versi aslinya apa adanya sesuai pengalaman tetua kita .

  2. nyoman sampun said:

    Om Suastyastu. Teruslah berkarya. Saya saluut dan angayubagya kehadapan Sang Hyang Widi Wasa dapat ikut menikmati tulisan anda. Saya hanya bisa memberi dorongan agar bisa sukses dlm tulisan2nya. OSSSO.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: