Just another WordPress.com site

Pohon Besar dan Batu Besar

Ada apa dengan pohon besar dan batu besar? Sejak zaman dahulu kala umat Hindu di Bali sudah biasa menyembah pohon besar atau batu besar yang oleh umat non Hindu dianggap sebagai praktek animisme. Menurut pemahaman saya praktek-praktek ini bukanlah animisme melainkan murni ajaran Hindu.

Mereka tidak paham kalau di Hindu ada yang namanya sekala dan niskala. Mereka hanya cenderung kepada apa yang mereka lihat secara kasat mata atau sekala dan langsung menyimpulkan sesuatu itu sesuai dengan apa yang mereka lihat secara kasat mata. Mereka tidak mengerti dengan substansi yang ada dibalik yang kasat mata tersebut yang disebut niskala yang justru merupakan tujuan utama dari praktek pemujaan tersebut.Jadi sebenarnya yang kita sembah itu bukanlah pohon besar atau batu besar itu melainkan Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak berwujud dan ada dimana mana baik didalam ciptaanNya maupun diluar ciptaanNya sesuai ajaran Nirguna Brahman (wyapi wyapaka nirwikara).

Itulah sebabnya mengapa kita menutup mata waktu sembahyang, karena kita mau menyembah yang tidak kelihatan. Kalau kita sembahyang dengan mata terbuka maka perwujudan yang yang ada dihadapan kita itulah yang kita sembah, sedangkan perwujudan itu bukanlah Tuhan. Ajaran ini merupakan ajaran Hindu tentang bagaimana memahami Tuhan sebagai Nirguna Brahman (Tuhan yang tidak berwujud) dan Saguna Brahman (Tuhan yang berwujud).

Memang tidak mudah bagi seseorang untuk memahami tentang Nirguna Brahman dan Saguna Brahman, termasuk bagi umat Hindu sendiri. Bagi saya sendiri pemahaman ini membantu memudahkan saya mengurangi kebingungan saya dalam memahami Tuhan menurut Hindu.

Sebelumnya saya memang dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan karena kita sebagai umat Hindu Bali sejak kecil belajar agama Hindu bukan dengan belajar tatwa melainkan melalui praktek upacara agama (ritual), dan dengan praktek tersebut kita sudah merasa puas walaupun kita sebenarnya sering tidak tahu makna dari suatu upacara tersebut dan kalaupun ditanyakan kepada orang-orang tua, jawabannya hanyalah jawaban klise “nak mula keto atau mula napet keto” dan bagi saya ini adalah bukan sebuah jawaban melainkan sebuah pernyataan “ketidak tahuan” dan saya pun kalau bisa tidak ingin melanggengkan atau mengajegkan kebodohan saya kepada anak cucu saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: