Just another WordPress.com site

Tuhan dan Manusia

Sebagai penganut Hindu kita percaya Bahwa Bhagawad Gita merupakan salah satu dasar dari keyakinan agama kita. Oleh karena disini saya petikkan salah satu dari bab Bhagawad Gita yaitu Bab VII – 6 yang menyebutkan “Etad-yonini bhutani sarvanity upadharaya, aham krtsnasya jagatah prabhavah pralayas tatha” yang artinya : “Ketahuilah bahwa semua mahluk mempunyai asal kelahiran disini. Aku adalah asal mula dari seluruh alam semesta ini, demikian pula penyerapannya kembali”. Semuanya berasal dari Tuhan dan milik Tuhan termasuk diri kita ini. Kita tidak punya apa-apa karena semuanya adalah milik Tuhan.

Kita sesungguhnya hanyalah konsumen atau penikmat. Segala ciptaanNya ada dibawah kekuasaanNya. Jadi sesungguhnya manusia tidak punya hak cipta maupun hak milik. Manusia hanya punya hak pakai.

Dimasa lampau dimana kemampuan manusia masih belum berkembang dan masih sangat sederhana, manusia hanya berusaha untuk bisa bertahan hidup. Manusia hidup dalam kelompok secara nomaden berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika itu belum ada rasa memiliki. Ketika mereka mulai menemukan suatu daerah yang di anggap subur dan nyaman, mereka mulai menetap dan menganggap wilayah yang dibawah kekuasaannya tersebut sebagai miliknya. Kalau ada kelompok lain yang datang dianggap sebagai suatu ancaman sehingga terjadilah peperangan. Di zaman sekarang segala sesuatu dianggap menjadi miliknya karena merasa sudah membeli. Apakah pantas kita mengatakan kalau banten yang kita haturkan kepada para dewa maupun Tuhan kita anggap sebagai suatu persembahan, apalagi diembel-embeli dengan kata penuh ketulusan hanya karena kita menganggap sudah menjadi milik kita, tapi kemudian kita bawa kembali pulang untuk kita nikmati. Ini hanyalah aturan yang dibuat manusia agar tidak terjadi kekacauan. Kita harus menyadari bahwa kita tidak pernah membayar atau melakukan jual beli dengan Tuhan sebagai pemilik sah alam ini.

Manusia jangan sombong mengatakan mampu menciptakan ini dan itu. Hanya Tuhan yang punya kemampuan mencipta. Manusia tidak lebih dari sekedar tukang masak, yang memasak makanan dari bahan baku yang sudah ada hingga menjadi masakan ini dan itu. Manusia hanyalah pembuat dari sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lain, from something to other thing, sedangkan Tuhan mencipta dari tiada menjadi ada atau from nothing to something. Manusia diberikan kemampuan untuk menolong dirinya sendiri maupun mahluk yang lain sebagai yadnya didalam menjalani kehidupan ini. Dengan kemampuan ini manusia semestinya mengolah alam ini dengan baik dan janganlah merusaknya karena manusia tidak punya hak mempralina alam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: