Just another WordPress.com site

Tradisi upacara pitra yadnya di Bali biasanya membutuhkan waktu yang banyak, dana yang banyak, orang yang banyak dan keribetan yang banyak. Kemegahan dan kemeriahan seolah-olah menjadi tujuan dari upacara. Kita memang berhasil memberikan tontonan yang indah dan kita bangga dengan pujian yang kita terima, tapi kita belum mampu memberikan tuntunan. Bagi orang Bali Hindu kejadian ini merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Penduduk asli Bali terus bertambah setiap tahun ditambah lagi dengan penduduk pendatang juga terus dan terus bertambah setiap tahun, kesulitan mencari kerja terus meningkat, tanah orang Bali terus menyusut karena sudah dibeli oleh pendatang. Dengan kondisi seperti itu apa mungkin kehidupan kita orang Bali akan bertambah sejahtera dimasa mendatang? Saya memang tidak optimis mengenai masalah ini dan mungkin orang Bali yang lain juga ada yang pesimis seperti saya, dan juga ada banyak orang Bali yang tidak perduli dengan mengatakan bahwa masa yang akan datang adalah urusan generasi yang akan datang. Pertanyaannya sampai kapan kita akan mampu mempertahankan kemegahan seperti itu sedangkan waktu kita semakin sedikit karena harus bersaing meningkatkan kinerja dan dana kita juga semakin minim.

Sekarang sudah ada beberapa lembaga penyelenggara upacara keagamaan yang berani meyederhanakan upacara, sehingga upacara yang penuh banyak itu bisa diminimalkan terutama dananya. Pertanyaannya apakah dengan minimalisasi ini makna upacara juga menjadi minim? Semuanya kembali ke pribadi masing-masing bagaimana kita memaknai upacara. Pilihan ada pada diri kita masing-masing karena urusan beragama adalah urusan pribadi. Mau beragama dengan cara ruwet silahkan, mau yang simpel juga silahkan. Kedepannya mestinya kita lebih bisa beragama secara cerdas dan seimbang sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana yaitu keseimbangan antara beragama secara vertikal ke atas (Parahyangan) , ke bawah terhadap lingkungan hidup (Palemahan) dan ke samping terhadap sesama manusia (Pawongan). Sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik. Jangan keatasnya besar sampai habis-habisan, apalagi sampai berhutang sehingga tidak ada yang tersisa untuk yang kesamping. Kalau itu yang terjadi bagaimana mungkin kita bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik buat anak-anak kita. Sebaliknya kalau kita mampu beragama sesuai dengan Tri Hita Karana maka tercapailah kebahagiaan sesuai dengan makna dari Tri Hita Karana.

Kebetulan pada saat tulisan ini saya buat pada salah satu siaran tv nasional sedang ada acara bedah rumah. Rupanya acaranya juga disesuaikan dengan situasinya, karena pada saat itu menjelang hari Raya Natal. Rumah yang dibedah adalah rumah salah satu keluarga yang beragama Kristen. Acara tersebut mampu membawa kebahagiaan kepada keluarga mereka. Sadarkah kita bahwa acara tersebut adalah bagian dari ajaran Tri Hita Karana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: