Just another WordPress.com site

Tri Sandya

Tradisi beragama berkembang seiring dengan berjalannya waktu sehingga banyak anak muda sekarang ini yang tidak tahu kalau Tri Sandya dan Panca Sembah itu merupakan produk tradisi baru. Mereka mengira Tri Sandya dan Panca Sembah ini memang sudah ada dari zaman dahulu.

Dulu waktu saya masih kecil cara kita bersembahyang berbeda dengan cara-cara yang kita lakukan sekarang. Kalau di pura ada 11 pelinggih maka kita sembahyang di depan semua pelinggih, berpindah dari satu pelinggih yang satu ke pelinggih yang lain. Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak waktu yang dibutuhkan bila ada ribuan pemedek seperti sekarang. Dahulu sebelum ada transportasi canggih seperti sekarang, yang bersembahyang ke pura hanyalah orang-orang yang bermukim disekitar pura saja. Sekarang pemedek dari seluruh Bali datang ke pura bersembahyang 24 jam dan bisa berlangsung berhari-hari dan puranyapun terang benderang karena sudah ada listrik. Tehnologi yang merupakan hasil dari jnana marga memang benar-benar memudahkan hidup. Demikian juga tradisi meajar-ajar keliling Bali atau bahkan mungkin suatu saat nanti sampai keluar Bali atau bahkan ke luar negeri baru muncul setelah adanya transportasi mobil dengan segala kenyamanannya. Keren juga kan hitung-hitung sambil tamasya atau jangan-jangan tamasyanya yang lebih penting.

Rupanya para tokoh umat pada waktu itu mulai berfikir bagaimana membuat cara bersembahyang yang lebih simpel dan efektif. Saya pertama kali mengenal Puja Tri Sandya pada waktu saya masih sekolah di Sekolah Rakyat sekitar tahun enam puluhan. Tri Sandya dan Panca sembah merupakan produk baru yang mantranya merupakan gabungan mantra-mantra yang diambil dari beberapa sumber yang berbeda. Panca Sembahnya muncul belakangan yang kemudian menjadi satu paket persembahyangan dengan Puja Tri Sandya.

Pada mulanya saya tidak pernah berfikir tentang Tri Sandya ini dan merasa nyaman-nyaman saja sampai suatu ketika muncul pertanyaan dalam diri saya yang tidak bisa saya jawab. Setiap ada persembahyangan bersama selalu diawali dengan Puja Tri Sandya yang dilanjutkan dengan Panca Sembah dengan arahan dari pengenter persembahyangan agar memusatkan pikiran pada Sang Hyang Siwa Raditya.

Pertanyaan ini selalu muncul dalam diri saya setiap mengikuti persembahyangan bersama yang membuat saya menjadi bingung. Kalau pertanyaan itu tidak muncul saya akan nyaman-nyaman saja walaupun sebenarnya tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Apakah Puja Tri Sandya ini pemujaan kepada Tuhan? Kalau ya kenapa cakupan tangan kita dibawah sedangkan pada waktu Panca Sembah cakupan tangan kita diatas. Bukankah Tuhan diasumsikan di atas. Terus bagaimana caranya memusatkan pikiran kepada Sang Hyang Siwa Raditya. Ternyata setelah saya tanya-tanya kepada teman-teman ternyata mereka juga tidak tahu. Apakah mungkin ini keliru?

Akhirnya saya merasa menemukan jawaban kalau apa yang tadinya saya pikir keliru ternyata benar sehingga saya bisa lebih yakin dengan apa yang saya lakukan. Terus kenapa benar?

Pemujaan Tuhan Nirguna Brahman sebagai Tuhan tidak berwujud adalah sangat sulit untuk dilakukan. Sedangkan pemujaan Tuhan Saguna Brahman sebagai Tuhan yang berwujud adalah jalan menuju Tuhan Nirguna Brahman. Jadi untuk menuju Tuhan yang tidak berwujud didalam pemujaan Tri Sandya memerlukan perwujudan Tuhan. Tuhan yang paling mudah untuk dipahami adalah Tuhan yang paling dekat dengan diri kita adalah Tuhan yang bersemayam dalam diri kita sebagai Bhuwana Alit yaitu Sang Hyang Atma (Atman Brahman Aikyam) yang membuat kita hidup yang bermakna pemujaan Tuhan kedalam. Itulah sebabnya cakupan tangan kita didada (anahata cakra). Selanjutnya pada waktu Panca Sembah kita memuja Tuhan diluar diri yaitu Tuhan di Bhuwana Agung sebagai Tuhan Nirguna Brahman. Terus bagaimana memusatkan pikiran kepada Sang Hyang Siwa Raditya. Kembali kita harus menggunakan perwujudan Tuhan di dalam Bhuwana Agung yaitu “matahari” yang merupakan salah satu dari 3 perwujudan Tuhan yang mutlak ada yang merupakan sumber kehidupan ini. Tanpa 3 perwujudan ini tidak akan ada kehidupan didunia ini.

Adapun ketiga perwujudan ini adalah perwujudan Tri Murti: 1. Matahari yang merupakan sumber api terbesar didunia yang merupakan simbol dari Brahma, 2. Air dengan sumbernya laut merupakan simbol dari Wisnu dan 3. Udara yang merupakan simbol dari Siwa. Demikian menurut pemahaman saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: